Meja13 adalah situs judi online game capsa susun
Bandar Pilihan Dapatkan Informasi situs Judi Terpercaya tahun 2017

Cerita Sex : Ibu Sekdes yang pengertian

Pada waktu KKN di suatu daerah terpencil di Jawa Tengah (Di suatu desa kecil yang belum terjangkau angkutan dari arah kota, bahkan untuk
mencapai jalan raya yang dilalui mobil angkutan, harus berjalan kaki selama 2jam), kukira warganya masih terbelakang dan kurang pergaulan. Maklum di salah satu dusun, yang dihuni sekitar 100 keluarga, hanya satu yang mempunyai TV dengan menggunakan aki.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Bad Story in Newyork

Tetapi kenyataannya lain. Inilah pengalamanku hidup ditengah-tengah penduduk tersebut, tentu saja pengalamanku di bidang seks. Aku kebetulan menginap di rumah Sekdes, yang ternyata seorang ibu muda aku taksir kurang dari 40 tahun. Langsing, kulitnya mulus dan rupawan. Memang lain dibandingkan dengan penduduk kebanyakan di sekitarnya. Dan yang menjadikan aku sangat bernafsu adalah karena statusnya yang janda beranak satu.

Disuatu sore, menjelang malam, ketika baru datang dari kampus untuk konsultasi skripsi, kudapati rumah Mbak Iis (begitulah panggilan Sekretaris Desa yang rumahnya kutempati itu) tampaknya sepi. Badanku basah kuyup, karena kehujanan sepanjang perjalanan kaki dari jalan raya. Aku dorong pintunya dan ternyata tidak terkunci. Aku segera menuju ke kamarku, kulepas semua pakaianku dan kukeringkan dengan handuk. Tiba-tiba ada suara langkah mendekati kamarku, kuintip dari balik korden, Mbak Iis mendekat ke kamarku.

“Ini kesempatan,” pikirku.

Aku terus mengeringkan kepalaku dengan handuk sehingga mataku tertutup dan pura-pura tidak tahu kalau Mbak Iis mendatangi kamarku. Tanpa kusengaja kemaluanku jadi bertambah besar. Tergantung kesana-kemari ketika tubuhku tergoncang karena gosokan yang keras di kepalaku. Benar saja Mbak Iis menyingkapkan korden, namun aku
pura-pura tidak melihatnya, walaupun dari pori-pori handuk aku melihat Mbak Iis dengan raut wajahnya agak terkejut, tetapi dia diam saja. Bahkan sepertinya dengan seksama memperhatikan alat vitalku yang makin lama makin besar oleh tatapan Mbak Iis. Aku pura-pura terkejut ketika kulepas handukku dari kepalaku.

“wwwOh, Mbak Iis, kirain siapa,” Aku sengaja membiarkan kemaluanku tidak kututupi, ada perasaan bangga mempertontonkan kemaluanku
disaat sedang gagah-gagahnya.

“Dik Angga, datang kok nggak bilang-bilang,” bicaranya cukup tenang, seakan-akan tidak melihatku aneh.

“Iya Mbak, baru datang terus kehujanan.”

“Aduh, nanti masuk angin, aku ambilkan minyak angin ya.”

“Nggak usah Mbak, takut panas.”

“Lha iya biar anget gitu lho.”

“Maksud saya, takut panas kalau kena ini, lho Mbak.”

“Ah Dik Angga bisa aja, mikiran apa sih kok ngacung-ngacung kayak gitu,” kali ini Mbak Iis mau melihat terpedoku, aku bahagia sekali.

“Ih, gede banget sih Dik.”

“Pernah aku ukur 17 cm kok Mbak,” Aku berjalan mendekatinya.

“Dik Angga bisa aja, pake diukur-ukur segala,” kupegang pundaknya, dan dia diam saja.

“Kok sepi Mbak, kemana anak-anak lain.”

“Anu.. khan, lagi bertemu Pak Bupati,” tampaknya ia agak gugup dan seperti mau melangkah ke belakang. Tetapi kutahan dia, bahkan ketika
kucium pipinya ia diam saja. Kulanjutkan dengan bibirnya, ia juga diam saja. Bahkan memberikan sambutan yang hangat. Kini Mbak Iis yang aktif menciumi tubuhku dengan gemasnya, aku diam saja, dan kulucuti pakaiannya. Ketika kubuka BH-nya, aku tertegun, payudaranya masih kencang dan mulus, ukurannya sedang. Perutnya ramping, cembung di bawah, sedikit di atas jembutnya. Mbak Iis terus menyerangku dengan
kecupan-kecupan yang membuatku kelabakan dan jatuh ke tempat tidur karena terdorong oleh kuatnya desakan Mbak Iis yang sudah telanjang bulat itu.

Aku hanya bisa memegang payudaranya sambil memijat, mengelus dan memelintir putingnya. Mbak Iis terus mengecup setiap inci dari tubuhku, dadaku, lenganku, perutku dan pahaku. Kejantananku yang sudah sangat keras dipegangnya terus seakan sudah menjadi hak miliknya saja. Dikecupnya ujung kemaluanku, aku mengelinjang kegelian. Namun Mbak Iis tidak meneruskan. Sambil tersenyum manis
ia berkata, setengah berbisik, “Nanti saja..” Sambil memeluk dan menciumku dengan hangat dan membalikkan posisinya sehingga aku berada di atasnya. Kini posisiku lebih leluasa, aku bisa pandangi kemolekan tubuh Mbak Iis, setiap senti dari permukaan tubuh itu kuciumi dengan penuh nafsu.

Nafas Mbak Iis makin memburu, lama kutempelkan pipiku pada perutnya. Perasaan senang luar biasa menyelimutiku. Sambil tanganku terus meremas-remas payudaranya. Kuturunkan kepalaku ke bawah, kuciumi paha sebelah dalam Mbak Iis, hingga sampailah ke jaringan lunak yang berada di tengah selangkangannya. Kujilati benda itu, hingga Mbak Iis mendesah kecil sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi,
seakan-akan menginginkan aku menjilatinya. Liang kewanitaan Mbak Iis sudah basah, aku terus menjilati daging kecil yang ada di bagian atas kemaluannya, yang menurutnya bernama “itil” ya mungkin bahasa kerennya ya “klitoris” itu.

Setelah jenuh aku menjilati liang kewanitaannya, aku bersiap-siap mengarahkan batang kejantananku ke liang senggamanya, Dengan
cekatan ia bimbing batang kejantananku hingga di depan gerbang kewanitaannya. Dengan sekali sentak masuklah kepala burungku. Tampak masih lumayan seret, sehingga tidak semuanya langsung bisa menghujam ke dalam liang kewanitaannya. Setelah beberapa kali maju mundur barulah semuanya tenggelam hingga kurasakan ujung kemaluanku menyentuh dinding kewanitaannya yang paling dalam. Mbak Iis melenguh, menjerit dan makin memelukku dengan kuat.

“Terus Dik.. terus Dik.. Tahan Dik, aku.. mau.. keluar, Ohh..” Dia memelukku dengan kuat sambil meluruskan kakinya, hingga batang
kejantananku terasa terjepit. Dengan nikmatnya. Hingga akupun tidak tahan lagi membendung air maniku bertahan. Aku segera mencabut kejantananku dan kukocok-kocok hingga muncratlah air maniku di atas perutnya.

Beberapa detik kemudian heninglah suasana di kamar itu. Tampaknya hari sudah mulai malam, hujan terus turun dengan derasnya. Namun
nafas Mbak Iis yang memburu dan tubuhnya terbaring dengan lunglai. Aku terlentang di sampingnya. Dia segera tertidur dengan kepala di atas perutku, menghadap ke kemaluanku. Akupun tampaknya terlena juga. Pada waktu Mbak Iis membangunkanku, untuk makan malam. Aku memakai piyamaku dan menuju ke ruang makan, Mbak Iis mengenakan daster yang tipis. Ketika kurogoh dari bawah dasternya, ternyata ia tidak memakai celana dalam. Mbak Iis mengelak dengan genit meskipun sempat tersentuh juga.

Dalam percakapan selama makan malam, baru kutahu bahwa dia
mempunyai anak perempuan yang sedang sekolah di Sekolah Pekerja Sosial di Semarang. Setiap minggu ia pulang ke rumah. Silvi, anak Mbak Iis, memang manis dan supel. Pada suatu hari minggu ia memang datang dan aku sempat ngobrol dengan Silvi. Waktu itu ibunya sedang ada tugas mendampingi Pak Kades menerima kunjungan anggota DPRD. Saking akrabnya aku ngobrol dengan Silvi, hingga tidak canggung-canggung lagi ia masuk keluar kamarku maupun sebaliknya.

Bahkan ketika Silvi memintaku untuk membuat salah satu tugas teks pidato, aku tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamarnya. Secara tidak sengaja aku menemukan amplop kecil di atas meja belajarnya. Ketika kubuka ternyata gambarnya adalah gambar porno kategori XX. Silvi cuek saja ketika kuamati gambar-gambar tersebut. Tidak terasa bagian bawahku mulai berontak. Tiba-tiba Silvi membungkukkan badan di depanku, sambil ikut melihat gambar-gambar porno tersebut.

“Silvi, nggak pakai BH lho..” Aku kaget bukan kepalang, mendengar suara manja itu, dan kulihat wajahnya sudah sangat dekat dengan
wajahku. Dan yang lebih dahsyat lagi adalah, dengan posisi menduduk itu maka payudaranya yang bebas tidak terbungkus BH itu tergantung indah. Aku segera meraihnya, sambil kucium bibirnya. Sebagai tindakan naluri dan refleks priaku saja. Silvi membalasnya dengan tidak mau
kalah lahapnya. Kubuka T-shirtnya, dan kuciumi putingnya yang kecil tetapi panjang, seperti puting ibunya.

Dan kulepas semua pakaiannya, terakhir adalah celana dalamnya. Kuraih kemaluannya, jembutnya masih jarang, sehingga belahan liang kewanitaannya yang berwarna merah jambu dapat terlihat dengan jelas. Ia susupkan tangannya ke dalam celana pendekku. Begitu menemukan batang penisku yang sudah sangat tegang ia lemas dan menarikku ke tempat tidurnya.

Aku melepaskan pakaianku, hingga telanjang bulat. Aku baringkan di tempat tidurku, dengan posisi telentang, memberikan kesempatan
bagi Silvi untuk menikmati bagian tubuhku yang sangat kubanggakan itu. Benar saja, ia dengan sigap meraih kemaluanku dan mengulumnya, meskipun masih sangat tidak profesional, tetapi kuhargai juga keberaniannya. Barangkali ia hanya ingin mempraktekkan apa yang pernah ia lihat pada foto porno. “Jangan kena gigi,” seruku ketika giginya menggesek ujung kemaluanku, yang membuatku nyengir. “Eh sorry, Mas..” Lalu ia jilati seluruh permukaan batang kejantananku, hingga kedua biji penisku tidak luput dari serangan ini. Aku hanya meringis menikmatinya.

Setelah tidak ada lagi variasi darinya memperlakukan kemaluanku, kubimbing dia untuk terlentang. Ia menurut ketika kubuka pelan-pelan pahanya, kini dengan jelas liang kewanitaan yang manis bentuknya itu. Ketika kusibakkan, kulihat warna merah menantang, sedangkan lendirnya sudah banyak mengalir ke sprei batiknya. Posisiku sudah siap untuk menyetubuhinya. Batang kemaluanku sudah tepat di depan mulut liang kewanitaannya.

“Sil, masih perawan nggak, aku masukin ya?” pintaku.

Silvi tidak menjawab namun dengan kuat ia menarik bokongku, hingga amblaslah batang kejantananku memasuki wilayah terlarangnya. Memang baru separuh, sempit sekali, aku hampir tidak tega ketika Silvi meringis sambil memejamkan matanya.

“Kenapa Sil, Mas cabut ya..”

“Jangan,” bisik Silvi sambil menjepit punggungku dengan kedua kakinya.

Kugerakkan maju mundur pelan-pelan, karena sempitnya liang
kewanitaannya. Membuat Silvi mengeleng-gelengkan kepalanya kekiri dan kekanan hingga sebuah jeritan panjang. Namun segera kuciumi mulutnya agar jeritan itu tidak terdengar tetangga. Orgasme Silvi lama sekali, seperti orang kesurupan, kepalanya kupegangi kuat-kuat agar mulutnya tidak lepas dari ciumanku. Sehingga suara jeritan itu tertelan sendiri. Badannya kejang, pelukannya kencang sekali.

Akhirnya tumpahlah kenikmatan Silvi. Aku sangat gembira bisa memuaskannya. Biarpun maniku belum keluar, aku puas sekali. Silvi tertidur, aku segera berpakaian, dan dengan berjingkat ke arah kamarku dekat kamar Mbak Iis. Di depan kamar Mbak Iis kudengar suara, saat kusingkap dan aku terkejut ternyata ada Mbak Iis. Aku ketakutan dan hampir tidak bisa bicara. Dengan suara seadanya aku mendesis, “Oh, Mbak kok sudah pulang.” Tidak kusangka Mbak Iis tersenyum manis, mendekatiku dan mencium bibirku.

“Jangan buat anakku hamil, ya.”

“Jadi, Mbak tahu kalau aku habis begituan sama Silvi?”

“He eh, anak sekarang memang lain dengan jaman saya dulu, baru kenal sudah tidur bareng.”

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Cinta Cewek Salon

Aku hampir tidak percaya ini, kemaluanku masih belum lemas,
karena memang belum keluar. Mbak Iis tahu itu. Ia lepaskan celanaku dan segera dihisap-hisapnya kejantananku dengan lihainya hingga keluarlah maniku ke dalam mulutnya. Mbak Iis tersedak, dan segera menuju dapur meminum air kendi. Aku hanya bengong saja. Lama tidak bergerak dari tempatku berdiri. Kemaluanku tergantung dengan santainya.

Capsa Susun

Add a Comment